Niat

Posted: August 27, 2012 in LagiBener
Tags: ,

Terkadang.

Niat dan tekad yang telah tersusun rapi dan kuat.

memiliki 2 kemungkinan kesimpulan yang muncul di permukaan.

Hitam.

Putih.

lalu yang memilikinya hanya bisa meminta-minta.

Ampunan.

Penghargaan.

Maaf buat Dinda di sana….love u..

Regrets? I’ve had a few,
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

Pemanasan. Lari. Bebas.

Posted: July 28, 2012 in Ngelamun
Tags:

Sidoarjo, dalam lamunan…..

Selagi sendiri dan ngangur, kebayang masa-masa lalu dimana kebebasan adalah hidup, cukup bernafas, tertawa, dan menurut, menunggu waktu bisa pergi dan jam batas pulang.

Ga ada yang perlu dikhawatirkan kecuali PR yang sengaja belum dikerjakan dengan janji “besok akan datang lebih pagi”

Ga ada yang perlu dipikirkan kecuali “mau pesen apa ya di kantin nanti”

Ga ada yang perlu dicari selain tempat dimana kita bisa “berduaan”

bebas itu, ga perlu khawatir, ga perlu mikir, ga perlu nyari. Bahagia. Yang penting tidak merugikan.

mmmmmm…..

Sekarang semacam hilang, hingga kosa kata yang biasa lancar kutulis menjadi gagap…menjadi sulit terucap, hingga papan huruf ini menjadi sedikit berdebu.. semacam ada yang menekan di ubun-ubun, memenjara udara yang biasa keluar daru ruas jari yang menari sambil membuka jendela…ditekan dengan angka-angka perintah dari langit yang sombong, yang tidak mau tau seberapa tersiksanya aku, seberapa terbatasnya aku, sebagai aku.

Ini saja, bingung kutulis judul, dan sedang menulis apa aku ini..

pemanasan saja..

pemanasan untuk berlari..

meraih keBEBASan…

Aku Panggil Dia

Posted: July 28, 2012 in Sehari-hari

Ga ada lagi orang yang dapat ditanyakan…

Mau kemana?

Kenapa?

Harus ya?

dimana?

lalu aku panggil dia, hati…

hati….

Diam dan Emas Itu…

Posted: December 7, 2011 in LagiBener

Belakangan hari ini hari-hari saya hanya diisi dengan ‘menunggu’, menunggu kepastian kapan saya akan memulai bekerja pada salah satu Bank BUMN yang telah menerima saya. Ya,dengan santai pastinya hari-hari saya isi dengan menulis dan membaca segala yang bisa dibaca.

Pada suatu momen, saya teringat dengan sebuah pepatah yang saya dapat dari pelajaran Bahasa Indonesia sewaktu dibangku SD.

Diam itu emas

Sedikit mengganjal dalam pikiran kala itu. Iya, karena saat itu saya anggap emas adalah suatu hal yg mewah, mahal dan tidak sembarangan orang dapat memilikinya. “Berarti orang diam itu bisa kaya ya? Kenapa aku harus sekolah kalo diam aja bisa kaya?” Terus bertanya namun menerima.

Nah..sekarang saya bisa menulis dan ingin mengurainya di sini.

Diam.

Menurut saya diam itu harus relatif,harus fleksibel, harus sadar situasi. Selama saya menunggu ini, saya diam, saya tidak berbuat apa-apa. Ini menjadikan beberapa otot pada tubuh saya kaku. Terbukti diam bukan emas. Selama saya dinyatak diterima kerja saya hanya diam saat mendapat panggilan pada perusahaan yang lain, dan hasilnya saya tetap menunggu, terbukti diam itu bukan emas. Ya, untuk kali ini menurut saya diam bukan emas. Yang akhirnya kini saya memilih mengisi hari-hari dengan membaca dan menulis. Dan terbukti saya dapat ilmu, saya dapat teman penulis lainnya di blog, yes! This is Gold! Inilah emas!

Untuk sementara ini, menurut saya, jangan diam, let’s move! Lakukan sesuatu untuk diri kita sendiri terlebih-lebih untuk negara ini. Jangan diam. Yaa.. Berdiamlah disaat kamu benar-benar tidak mampu. Tapi jangan diam disaat kita punya solusi. Saya lebih setuju menambahkan 2 kata pada pepatah itu.

“Tidak selamanya diam itu emas”

 

Salam Optimis.